Melihat sesuatu dari perspektif berbeda, terkadang menjadi solusi kebuntuan.

  • Sepak Pojok

    Melihat sesuatu dari perspektif berbeda, terkadang menjadi solusi kebuntuan.

Tampilkan postingan dengan label cerita kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita kehidupan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Mei 2016

Ponsel Selamatkan 6 Ribu Nyawa per Tahun


Ericsson belum lama ini mempublikasikan laporan mereka bertajuk ‘The Impact of Mobile Connectivity on the Millenium Development Goals in Africa. Hasilnya, usaha kecil merasakan manfaat, khususnya dari sisi penghematan biaya transportasi serta memungkinkan mereka mengakses informasi harga dan pasar.

Hasil pemantauan dan evaluasi studi yang dilaksanakan di Ghana, Nigeria, Kenya, dan Tanzania menunjukkan bahwa pengenalan jaringan seluler memiliki potensi untuk mempengaruhi perkembangan sosial ekonomi bagi individu dan desa-desa di daerah terpencil.

“Hal ini sejalan dengan hasil penelitian lain yang telah dilakukan bahwa pertumbuhan PDB (produk domestik bruto) 1,2 persen dapat dicapai di negara-negara berkembang untuk setiap kenaikan 10 persen tingkat penetrasi seluler,” kata Elaine Weidman Grunewald, Head of Sustainability, Ericsson, pada keterangannya, Rabu 22 September 2010.

Dengan bantuan sebuah ponsel dan nomor bebas pulsa ke pelayanan kesehatan, menurut Grunewald, petugas kesehatan dapat menyelamatkan ribuan nyawa. “Berdasarkan studi, di negara-negara tersebut setidaknya 6.000 kehidupan dapat diselamatkan setiap tahunnya,” kata Grunewald.

Untuk transportasi, responden dilaporkan dapat menghemat rata-rata sekitar US$5 per perjalanan dengan menggunakan telepon daripada pergi menempuh perjalanan ke tempat tujuan. “Perbedaan ini sangat penting mengingat pendapatan di daerah tersebut kurang dari US$1 per hari,” ucap Grunewald.

Grunewald menyebutkan, laporan ini akan menjadi landasan penting, dan hasil penelitian menunjukkan potensi untuk pengembangan serta penggunaan teknologi seluler di negara berkembang lainnya di Afrika dan di perdesaan, daerah terpencil dan miskin.

“Kami percaya bahwa sebagian besar dari sekitar 57 juta orang tinggal di daerah perdesaan di empat negara ini bisa mendapatkan manfaat dari komunikasi seluler dengan tingkat investasi yang wajar untuk penambahan infrastruktur telekomunikasi tambahan,” ujar Grunewald.

Lars Linden, Head of Ericsson Sub-Saharan Africa, pada kesempatan yang sama mengatakan, pertumbuhan yang luar biasa dari jaringan seluler dan serapan pelanggan seluler menjadi petunjuk paling penting terhadap peluang bagi masyarakat mendapatkan manfaat dari ketersediaan infrastruktur.

“Di seluruh dunia, masih ada satu miliar orang yang tinggal di luar jangkauan jaringan seluler dan jaringan listrik,” ujar Linden. “Kami telah menemukan bahwa penggunaan sumber energi terbarukan dikombinasikan dengan aplikasi-aplikasi yang telah disesuaikan menyajikan kesempatan bisnis yang berkesinambungan bagi para operator."
Share:

Rabu, 28 April 2010

Beda Wanita dan Pria dalam Komunikasi

Mungkin sebagian dari kita sudah banyak mengetahui bahwa Laki-laki dan perempuan memiliki sudut pandang berbeda dalam beberapa hal. beruntung bagi mereka yang sudah mengerti yang memungkinkan terjadi kebijaksanaan saat berinteraksi.

Ada sebuah adage lama yg mengatakan: Klo kamu bertanya pada pria sekarang ini jam berapa, maka dia akan langsung melihat arlojinya; tapi bila kamu tanyakan perihal yg sama kepada wanita, dia akan langsung bercerita tentang arloji2 cantik yg dia lihat di plaza kemarin sore .

Anda mungkin pernah mendengar seorang wanita bertanya-tanya, “Aku ndak ngerti kenapa si cowok itu mundur teratur. Apa yg salah sih dg aku? Apa aku ini terlalu menuntut, atau malah kurang menuntut? Cowok emang mbingungin. ” Sementara itu, di hari yg sama si cowok juga bertanya-tanya,”Aku ndak paham ama cewek ini, aku mungkin udah berbuat salah, tapi apa ya. Cewek emang makhluk rumit deh.”

Nyatanya pria dan wanita memang berbeda, termasuk dalam hal cara mereka berkomunikasi. Hal ini amat penting untuk dimengerti karena komunikasi bukanlah sekedar menyampaikan pesan (dalam hal ini khususnya dg lawan jenis), namun juga terkait bagaimana kita memahami lawan bicara dan pesan2 yang dia berikan. Mari kita lihat saja bedanya
1.Apa yang Diobrolin Laki-laki dan Perempuan Udah Beda
Girls like people. Sewaktu kecil, cewek sukanya ngobrol tentang siapa lagi suka ama sapa, siapa lagi marahan ama sapa, dan semacamnya. Mereka bermain dalam kelompok2 kecil dan saling berbagi ‘rahasianya’ orang lain. Sbg teenager, mereka ngobrolin cowok, berat badan, pakaian dan teman2 mereka. Beranjak dewasa, cewek suka ngobrolin tentang diet, hubungan2 pribadi (diri sendiri dan sudah pasti orang lain), pernikahan, anak-anak, percintaan dan segala (urusan2 pribadi) yang terkait dg orang lain, baik yg dikenal maupun tidak.

Boys like things. Sementara itu, di waktu kecilnya, cowok suka bicara tentang things (barang2, perangkat & mainan) dan juga aktivitas: siapa melakukan apa, siapa yang bagus di perihal tertentu dan bagaimana cara kerja berbagai perlengkapan/apapun yg mereka anggap mainan. Sbg teenager, cowok mbicarain sports, game, barang2 mekanik dan kegunaan dari things. Beranjak dewasa, cowok mendiskusikan sports, kerjaan mereka, berita, apa2 yang mereka lakukan, teknologi, barang2 bermesin dan juga gadget. Bukannya cowok ndak pernah ngobrolin ttg people. Tentu saja pernah. Tapi biasanya itu masih dalam konteks olahraga, kepentingan karir, atau teknologi.

2. Alasan Laki-laki dan Perempuan Ngobrol Juga Beda
Awalannya dari struktur otak pria dan wanita yang ternyata berbeda. Otak pria tersekat-sekat secara tegas yg pengaruhnya pada kemampuan dalam mengelola informasi di kepala. Di akhir hari, pria berkemampuan untuk memilah dan menyimpan informasi dengan rapi di kepalanya, sedemikian rupa sehingga emosinya tidak merasa gerah.

Tapi otak wanita berbeda. Ketika wanita sedang ada kegalauan terutama, semua masalah yg dipunya, atau bahkan semua informasi yg mbikin gatel yg dia terima di hari itu terus saja berputar-putar di kepala. Wanita cenderung melakukan rewind atas informasi yg ada di kepala mereka selama berkali-kali. Satu-satunya cara untuk menghentikan itu adalah dengan mengungkapkannya, dengan cerita atau curhat ke orang lain. Mereka harus ngobrol ama orang lain sekedar untuk menguraikan masalah dan membuat dirinya lega. Ngobrol membantu wanita dalam mengklasifikasikan dan menata informasi di kepala.

Wife : You tell a man something, it goes in one ear and comes out of the other. Husband : You tell a woman something, it goes in both ears and comes out of the mouth.

Cowok seringkali tak mengerti hal ini. Banyak cowok berpikir bahwa mereka harus memberikan solusi atas apa2 yg diungkapkan oleh pasangan mereka. Ini malah membuat sang cowok merasa tertekan dan lupa untuk memberikan empati, karena dia bersibuk memikirkan tanggapan dan jawaban.

Lebih jauh lagi, berbeda dengan pria, wanita berkomunikasi untuk mengekspresikan diri, memberikan support kpd orang lain, dan secara umum; untuk membina hubungan. Sementara itu pria berkomunikasi lebih untuk bertukar informasi, memecahkan masalah, atau bahkan untuk menunjukkan dominansi.

3. Laki-laki dan Perempuan Ngobrol di Tempat yg Berbeda

Udah keliatan, dari apa yang diobrolin dan juga alasan untuk ngobrol, maka pria dan wanita juga memiliki preferensi terkait di mana mereka melakukan obrolan.

Kebanyakan lelaki lebih menyukai ngobrol di keramaian. Mereka ndak suka ngobrol di tempat2 sepi, apalagi klo sampai cuma berdua, apalagi klo sampe kemudian ketauan orang . Lha wong apa yang diobrolin cowok lho bukan perihal2 rahasia. Apa yg perlu dirahasiakan klo yg dibicarakan adl tentang gimana jalannya pertandingan bola kemarin malam atau cara penggunaan fitur dari gadget terbaru. Jikapun cowok bicara ttg hal2 yg sensitif, biasanya mereka pun masih ndak sungkan untuk bicarakan itu keras2 di depan umum.Sementara itu, perempuan berbicara untuk menjalin kedekatan hubungan dengan cara mengungkapkan perasaan secara bebas. Apalagi apa yg mereka bicarakan kebanyakan adalah perihal2 sensitif -yg harusnya adl- rahasia, baik milik sendiri maupun orang lain. Sehingga perempuan lebih menyukai tempat yang menyediakan privasi; seperti di rumah (atau kamar tepatnya), kafe, toilet hotel atau tempat lain yg di sana mereka bisa bebas cerita penuh ekspresi. Lho, bukankah perempuan suka jalan2 di mal, hanging out rame2 bersama teman? Betul, tapi mereka tidak menggunakan tempat2 itu untuk berbagi perasaan secara mendalam.

4. Ketika Laki-laki dan Perempuan Bertanya Serta Berikan Umpan Balik

Bagi perempuan; bertanya dimaksudkan untuk dua hal; menggali informasi (entah gosip atau yang lain) dan menjalin kedekatan hubungan. Kadang mereka ajukan pertanyaan yang sudah mereka ketahui jawabannya.

“Mas, gimana, aku cantik nggak?”, “Kangen ama aku, nggak?”

or rather, mereka ajukan pertanyaan yang mereka pikir pasangan mereka harusnya udah tau jawaban yg benar apa

Sementara itu, laki-laki biasanya lebih enggan bertanya. Ada yg merasa bahwa bertanya itu merupakan suatu bentuk kelemahan atau ketidakmampuan. Laki-laki biasanya memang lebih membenci (bila dirinya mengalami) kegagalan ketimbang perempuan. Terlebih ketika di hadapan perempuan, laki-laki biasanya lebih memilih mencoba sendiri sampai bisa ketimbang bertanya.

Tapi pria lebih berani blak2an ketika memberikan umpan balik, tidak seperti wanita yg begitu penuh pertimbangan dan menjaga perasaan. Sementara pria, secara ekstrim dibilang seperti ini:

Men answer to the question, not the person.

Terkait dengan umpan balik, wanita biasanya melakukan kritik pada diri sendiri. Self-appraisal nya lebih rendah ketimbang pria. Sementara pria lebih mudah untuk merasa puas dg performa mereka.


Share:

Minggu, 25 April 2010

Lulusan Terbaik Salah satu Universitas Negri Menjadi Tukang Sapu

Lulusan Terbaik Salah satu Universitas Negri Menjadi Tukang Sapu



PEKANBARU (RP) - Matahari sudah semakin tinggi di atas Gedung Kantor Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Riau di Jalan Gajah, Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru.

Beberapa orang lalu-lalang di kantor tersebut, namun seseorang berseragam dinas yang akhirnya diketahui bernama Jack Lord (30) masih tetap berkutat dengan tangkai sapu dan kain lap untuk membersihkan beberapa lantai ruangan di kantor tersebut.

WARGA Jalan Genteng Perumahan Tampan Permai, Kelurahan Tuah Karya, Kecamatan Tampan, ini, sebenarnya adalah seorang PNS golongan III A, namun saat bercerita dengan Riau Pos di kantor tersebut dia terkesan malu dan hampir tidak mau mengakui bahwa dia adalah PNS yang pernah menamatkan kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip), Jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Riau (Unri) dengan indeks prestasi kumulatif 3,75.

Kenyataan tentang dirinya adalah seorang sarjana tersebut hampir tenggelam dan tidak terlacak jika sekilas melihatnya, namun Riau Pos terus bertanya tentang siapa diri Jack sebenarnya. Jack Lord kemudian memulai ceritanya bahwa dia sudah menjadi PNS tahun 2002 dalam kualifikasi tamatan SMU pada golongan IIB sebagai pengatur muda tingkat satu.

Pada tingkat ini, Jack mulai bekerja sebagai tenaga cleaning service. Dia setiap harinya harus menyapu lantai dan membersihkan ruangan, mengepel, membersihkan kaca, bahkan membersihkan kakus di kantor tersebut. Namun resminya tercatat pekerjaannya adalah sebagai pengelola kebersihan ruang belajar dan aula kecil.

Saat bercerita itu, suara Jack Mulai lirih, tangan kanannya yang memegang tangkai sapu terlihat bergetar, tarikan napasnya juga terdengar cepat. Perlahan matanya mulai berkaca-kaca.

Jack mengaku, sambil bekerja, dia berusaha untuk kuliah karena dia juga punya cita-cita menjadi seseorang yang bisa dibanggakan oleh orang tua dan keluarganya. Namun sampai Rabu (21/4) kemarin, nasibnya tetap saja sebagai tukang pel lantai LPMP.

Walaupun Jack telah berhasil menamatkan kuliah dan lulus hampir dengan nilai cum laude di universitas negeri terbesar di Riau serta telah melewati proses penyesuaian ijazah, tapi tak ada perubahan dalam pekerjaannya.

‘’Saya sudah pernah protes dan sampai ke Jakarta, namun tetap tidak ada perubahan. Sepertinya mungkin inilah takdir saya, menjadi tukang sapu saja. Saudara saya juga jadi tukang sapu jalan. Berdua bersaudara kami laki-laki yang lulus kuliah seperti dipermainkan nasib, anak yang seharusnya sudah bisa membanggakan orang tuanya, tapi sampai kini hanya jadi tukang sapu,’’ ujar Jack berlinang air mata.

Dia merasa dipermainkan dan ditindas, protes kepada atasannya terus dilakukannya. Malah pernah dia bertanya, apakah memang ada pegawai negeri golongan IIIA sebagai penyapu lantai dalam SK yang dikeluarkan oleh pemerintah. Tapi waktu terus berlalu, pekerjaan harus tetap dilakukannya, dan tetap tidak ada perubahan.

Dulu saat dia protes ke Jakarta, ditanggapi oleh Direktorat Jendral Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang ditandatangani Ir Giri Suryatmana. Oleh Giri, atasannya yang di Pekanbaru disuruh untuk memperbaiki SK sesuai dengan golongan yang ditempati Jack. Atasannya mengakui ada kesalahan dalam pengetikan. Tapi kondisi masih tetap saja sama setelah protes tersebut.

‘’Dengan golongan yang sama, teman-teman duduk dalam ruangan bekerja dengan kertas dan pulpen tapi saya memegang sapu membersihkan lantai. Saya tidak keberatan dengan pekerjaan ini, karena dari dulupun inilah pekerjaan saya tapi apa sesuai dengan yang sudah saya tempuh, percuma saja rasanya saya pernah kuliah,’’ ujar Jack sambil terisak.

Dengan suara lirih sambil menghapus air mata yang mulai mengalir di pipinya, Jack mengatakan, dia mengerti dengan berbagai birokrasi pemerintahan dan berbagai disiplin ilmu pemerintahan serta bagaimana manajemen kepegawaian. Menurutnya, apa yang sedang dijalaninya sekarang ini sangat bertetangan dengan hatinya yang memahami pekerjaan pemerintahan.

Lalu dengan suara lirih dan parau, Jack kemudian bertanya, ‘’Apakah nasib saya ini karena ada kesalahan dari nenek moyang atau orang tua saya dulu sebelum melahirkan saya? Tak sanggup rasanya ditahankan hati tapi saya harus hidup menjalani nasib ini,’’ tanya Jack.

Jack mengaku sedikit kehilangan percaya diri, memasuki umur kepala tiga, dirinya belum menikah. Pernah terpikir dan terasa di hatinya untuk menikahi seorang gadis, tapi kondisinya sebagai seorang tukang sapu membuatnya tidak pernah berani mengungkapkan perasaan pada perempuan pujaan hatinya. ‘’Saya ini tukang sapu, siapa yang akan mau bersuamikan saya ini. Sepertinya tak ada orang tua seorang anak gadis yang mau melepaskan anak gadisnya hidup bersama saya,’’ ujar Jack dalam dialek Melayunya yang kental.

Jack juga menjelaskan, bukan tidak bisa menerima pekerjaan sebagai petugas kebersihan, namun lebih kepada kompetensi keilmuan dan kelaziman di dunia kerja.

‘’Bukan dikarenakan tidak menghargai pekerjaan tersebut. Hanya saja, naif rasanya bila melihat orang dengan golongan yang sama, bisa bekerja sesuai dengan kemampuan dan keahlian mereka. Saya sarjana Ilmu Pemerintahan, saya mengerti tugas pokok dan pekerjaan aparatur pemerintahan, etika birokrasi, pembagian kerja dan kewenangan, kebijakan publik, membuat undang-undang, bahkan ilmu politik dalam pemerintahan. Saya ini mungkin tidak kalah dibandingkan dengan para alumni Sekolah tinggi Ilmu Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) atau Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), yang membedakan kami sepertinya hanya nasib saya yang menjadi tukang bersih-bersih ini,’’ ucap salah satu mahasiswa terbaik Unri tahun kelulusan 2003 tersebut dengan mata kembali berkaca-kaca.

‘’Bila dalam ketentuannya memang ada hal yang membenarkan PNS dengan golongan III A bekerja sebagai tenaga kebersihan, bisa saja tugas itu tetap akan diterima sebagai konsekuensi tugas. Hanya saja, jelas hal tersebut bukan sebuah kelaziman di lingkungan pemerintah. Apalagi bila dikaitkan dengan fakta bahwa saat ini pemerintah lebih banyak menggunakan tenaga outsourching untuk mengerjakan tugas pembantu umum perkantoran,’’ sebut Budi Astoto, salah seorang mantan Ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan ketik diminta tanggapannya tentang nasib Jack.

Dia mengaku kecewa, karena, secara kualitas, sumber daya manusia seperti Jack Lord harusnya mendapatkan job description yang jelas sesuai dengan kualifikasi ilmu dan kepangkatan yang dimilikinya.

‘’Saya bahkan baru sekali ini mendengar pegawai golongan IIIA bekerja sebagai pembersih ruangan kantor. Karena selama ini tugas itu hanya diberikan pada tenaga tidak terdidik dan tidak terlatih,’’ sebut dia.

Penjelasan tersebut juga dikuatkan oleh staf pengajar Ilmu Pemerintahan Unri, Saiman Pakpahan SIP MSi yang menyebutkan bahwa hal tersebut pasti terjadi dikarenakan penyusunan Struktur Organisasi Tata Pemerintahan (SOTK) yang tidak clear. Bila penempatan tersebut didasari oleh alasan bahwa tidak ada posisi untuk penempatan pegawai dengan golongan yang setara, harusnya, antar-satuan kerja bisa saling berkoordinasi. Dengan demikian, potensi jajaran tetap sesuai dengan golongan dan tugas pokoknya.

‘’Saya malah melihat hal ini menunjukkan lemahnya sensififitas pimpinan, karena, idealnya, pimpinan bisa melihat potensi bawahan sesuai dengan golongan. Ini baru pertama sekali saya dengar, PNS golongan III A bertahun-tahun menjadi pekerja kasar yang tugasnya membersihkan ruangan. Bisa jadi ini banyak terjadi, tapi, itu merupakan bentuk tidak pekanya pimpinan terhadap potensi yang ada di wilayah kerjanya,’’ sebut dia.

Kata Sulaiman lagi, kalau alasannya adanya sikap suka atau tidak suka, itupun tak bisa jadi ukuran dalam kerja birokrasi, karena, kinerja birokrat diukur bukan berdasarkan aspek personalitas, melainkan profesionalitas bekerja. “Adapunish and reward. Pemimpin tak bisa menilai berdasarkan ukuran suka atau tidak suka, atau aspek kedekatan. Yang kita khawatirkan dalam sistem yang seperti itu, ada pegawai dengan golongan yang lebih rendah, tapi bisa mengerjakan tugas yang harusnya bisa dikerjakan oleh petugas yang mengerjakan pekerjaan kasar tersebut,’’ papar Saiman.

Riau Pos mencoba mengkonfirmasi status Jack ini kepada Kepala LPMP Riau, Zainal, namun dalam keterangan singkatnya Zainal mengaku sedang mengikuti acara dan minta tidak diganggu dahulu.

Kasubag Umum LPMP Riau, Drs Syukhmide Hendri saat ditemui secara terpisah tidak menafikan adanya pekerja dengan tamatan sarjana dipekerjakan sebagai tenaga cleaning service di kantornya. Hanya saja, saat ditanyakan apa dasar penempatan dan pembagian kerja yang digunakan, Syukhmide Hendri berusaha menghindar dengan pergi begitu saja meninggalkan Riau Pos, padahal sebelumnya dia sempat hendak bercerita panjang seputar tugas di LPMP. Sembari berpura-pura memanggil salah seorang pegawai, Syukhmide langsung lari begitu saja.

Diminta Bersabar
Terkait masalah ini, Kepala Dinas Pendidikan Riau, Prof Dr Ir Irwan Effendi mengaku tidak bisa menghakimi lembaga maupun orangnya. Pasalnya, sesuai dengan ketentuan hal tersebut adalah kebijakan pimpinan maunpun lembaga di mana dia bekerja. Selain itu juga, sebagai PNS apapun dia harus siap menghadapinya.

‘’Kita tidak bisa menilai orang dari penilaiannya di akademis. Jika memang dia melangkah dari tamatan SMA dan baru penyesuaian berarti memang ada jenjang untuk itu. masalah apa yang dikerjakannya mungkin kerena belum ada kesempatan saja. Yang jelas dia harus bersabar saja,’’ terangnya saat dihubungi Riau Pos Rabu.
http://www.kursiterbalik.com/2010/04...iversitas.html
Share:

BTemplates.com

Page View

Site info


Check Google Page Rank

free counters

Followers